Online Training Bersertifikat Seri Decision-Making 02 - Critical Thinking in Decision-Making Fasilitator: Tedi Irawan Learning Journey: 1. Critical Thinking 2. Langkah-Langkah Critical Thinking 3. Membuat Keputusan Tim 4. Pakai Decision-Making Models yang mana? Jangan lupa mengisi post-test di www.bit.ly/LDI-DEM02 lalu nantikan email petunjuk untuk mendapatkan sertifikat pelatihan. SETELAH ITU KAMU BISA MENDAPATKAN PROFESSIONAL MENTORING SECARA GRATIS YANG TAUTANNYA AKAN DIBERIKAN SETELAH SERTIFIKAT DIKIRIM.
ADVERTISEMENT
Hell Relationship Pagi-pagi dapat pertanyaan berat. "Kang, bagaimana agar kita bisa menilai, sebuah hubungan patut diperjuangkan atau tidak saat kita memulainya?" Jawaban saya,"Kita tidak bisa. Hubungan itu dinamis, selalu berubah, sebagian parameternya tidak bisa kita duga. Kita tidak bisa memulai sebuah hubungan, kemudian berharap hubungan itu positif, membahagian terus. Yang ada adalah hubungan yang harus terus kita perjuangkan untuk bisa kita nikmati, dan suatu saat kita juga harus rela meninggalkannya." Kenapa begitu rumit? Karena manusia, dengan pikirannya, dengan nafsunya, berubah-ubah. Orang bisa berubah-ubah dalam jangka pendek, tergantung situasi yang dia hadapi. Bisa pula berubah dalam jangka panjang, tergantung pengalaman yang ia jalani. Celakanya, apa yang terjadi dalam sebuah hubungan juga bisa mengubah orang, dan itu berpengaruh lagi pada hubungan. Dalam hal apa orang bisa berubah? Dalam segala hal. Suami yang dulu baik, penuh perhatian, suka membantu istri dalam pekerjaan rumah tangga, bisa saja suatu hari jadi diktator partriarki. Seseorang yang tadinya sangat setia, memuja pasangannya, bisa saja berubah jatuh cinta pada orang lain dan berselingkuh. Yang ini juga rumit. Dua orang memulai hubungan dengan status iman yang sama, misal-misalnya sama-sama alim, beriman kuat. Atau sebaliknya, sama-sama sekuler. Dalam perjalanan, bisa saja salah satunya berbalik arah, sehingga keduanya berada dalam perbedaan besar yang sangat sulit dikompromikan. Itu masih ditambah lagi dengan masalah lain, yaitu kesehatan mental. Ya, perubahan seseorang sangat besar kemungkinan dipengaruhi oleh kesehatan mental. Masalahnya, jauh lebih sedikit orang yang sadar bahwa ia punya masalah kesehatan mental dibanding orang yang sadar bahwa ia punya masalah kesehatan fisik. Orang dengan masalah mental, hidup dengan pasangan, tanpa menyadari bahwa ia sakit. Itu jadi beban berat buat pasangannya. Celakanya, pasangannya juga tidak sadar bahwa orang itu sakit. Jadi, bagaimana? Ya itu tadi. Jangan berpikir untuk memulai hubungan dengan harapan semua akan baik-baik saja. Mulailah hubungan dengan kesadaran seperti ditulis dalam Freddie Mercury lagu "Hard Life", bahwa sebuah hubungan bisa menjadi sangat berat untuk dijalani. Anda memulai hubungan berarti Anda bersiap untuk memperjuangkannya. Jangan memulai hubungan dengan ekspektasi seperti Cinderella bertemu pangeran ganteng. Sesat dalam dongeng Cinderella itu adalah, kehidupan mereka setelah mulai berhubungan (menikah) di-skip dengan satu kalimat pendek "mereka hidup bahagia selamanya". Kehidupannya tidak pernah dihadirkan dalam cerita. Sadari bahwa hidup berpasangan itu perjuangan. Ada hal-hal menyakitkan yang harus Anda telan, tak bisa Anda ubah. Ada hal-hal yang tak tertahankan, tapi tetap saja harus Anda tahan. Anda harus bersiap dengan kesadaran bahwa suatu saat Anda harus mengakhiri hubungan. Celakanya, saat Anda ingin mengakhiri pun, Anda tidak bisa. Apakah hubungan selalu seburuk itu? Tidak selalu, tapi bisa seburuk itu. Masalahnya, kita tidak tahu hubungan kita akan berjalan baik atau tidak. Makanya, siapkan mental untuk berbagai kemungkinan buruk, atau pilih jalan yang lebih sederhana: tetap sendiri.